<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Studymassa</title>
	<atom:link href="http://studymassa.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://studymassa.wordpress.com</link>
	<description>"Maju Imane, Maju Amale"</description>
	<lastBuildDate>Tue, 02 Sep 2008 10:27:21 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='studymassa.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Studymassa</title>
		<link>http://studymassa.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://studymassa.wordpress.com/osd.xml" title="Studymassa" />
	<atom:link rel='hub' href='http://studymassa.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Rencana Strategi Advokasi Kedaulatan Pangan, sebuah pandangan internasional</title>
		<link>http://studymassa.wordpress.com/2008/09/02/rencana-strategi-advokasi-kedaulatan-pangan-sebuah-pandangan-internasional/</link>
		<comments>http://studymassa.wordpress.com/2008/09/02/rencana-strategi-advokasi-kedaulatan-pangan-sebuah-pandangan-internasional/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Sep 2008 10:27:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>studimassa</dc:creator>
				<category><![CDATA[tentang psm_yogyakarta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://studymassa.wordpress.com/?p=33</guid>
		<description><![CDATA[kedaulatan pangan-psm-agustus2008 Catatan Kerja1 Lokakarya Kedaulatan pangan “Perencanaan Strategi Advokasi Kedaulatan Pangan” Yogyakarta, 27 Agustus 2008 Henry Thomas Simarmata Introduksi 1. Kedaulatan Pangan (food sovereignty) semakin lama semakin dimengerti secara luas. Di tingkat pemerintah nasional, lembaga antar-pemerintah (Intergovernmental Organisation), dan juga gerakan sosial di tingkat global, kedaulatan pangan semakin dikibarkan menjadi agenda advokasi di tingkat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=studymassa.wordpress.com&amp;blog=1859635&amp;post=33&amp;subd=studymassa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:left;">kedaulatan pangan-psm-agustus2008<br />
Catatan Kerja1</p>
<p style="text-align:left;">
Lokakarya Kedaulatan pangan<br />
“Perencanaan Strategi Advokasi Kedaulatan Pangan”<br />
Yogyakarta, 27 Agustus 2008<br />
Henry Thomas Simarmata</p>
<p style="text-align:left;">
<p style="text-align:left;"><strong>Introduksi</strong></p>
<p style="text-align:left;">1. Kedaulatan Pangan (food sovereignty) semakin lama semakin dimengerti secara luas. Di<br />
tingkat pemerintah nasional, lembaga antar-pemerintah (Intergovernmental<br />
Organisation), dan juga gerakan sosial di tingkat global, kedaulatan pangan semakin<br />
dikibarkan menjadi agenda advokasi di tingkat global. Hal ini penting untuk dicemati<br />
sebagai upaya yang harus dilakukan saat tingkat komersialisasi semua segi produktif<br />
masyarakat semakin intensif. Catatan ekonomi Indonesia menunjukkan, misalnya,<br />
tingkat pengubahan sumber daya alam menjadi kegiatan ekonomi (disclosure process)<br />
semakin intensif, dan tidak diikuti dengan peningkatan tingkat kelayakan hidup dan<br />
input kegiatan ekonomi per kepala (dengan merujuk pada 2 laporan utama: Human<br />
Development Report dan World Investment Report).<br />
2. Sebagai sebuah agenda advokasi, kedaulatan pangan menyentuh hampir setiap segi<br />
advokasi, mulai dari pengorganisiran, pendataan, sampai dengan pembelaan dan<br />
perubahan kebijakan. Rentang inilah yang didiskusikan dalam lokakarya kedaulatan<br />
pangan. Diskusi ini sekaligus membuka segi-segi yang kurang terperhatikan, dan juga<br />
segi-segi yang hampir selalu dilihat dalam persoalan kedaulatan pangan.<br />
3. Lokakarya mengundang pelaku advokasi soal pangan. Pelaku advokasi pangan ini<br />
mempunyai latar belakang yang beragam. Keragaman kerangka kerja dan pilihan<br />
advokasi ini penting untuk dibahas. Hal penting dalam proses “melangkah maju<br />
bersama’. (dikenal dengan proses <em>“future perfect”</em>.)</p>
<p style="text-align:left;">
<strong>Stocktaking: Identifikasi Masalah</strong><br />
4. Pesoalan pangan diidentifikasi sebagai suatu hal yang terkait dengan kemampuan dalam<br />
membangun ekonomi berbasis agraria. Pertanian, salah satu hal penting, dibahas<br />
sebagai suatu hal yang banyak mengalami hambatan kekuasaaan dan hambatan<br />
kebijakan. Tendensi yang mengarah pada monokultur dan industrialisasi tanaman<br />
pangan dan produk pangan membuat pertanian Indonesia menjadi aman rentan.<br />
Keduanya, dalam jangka pendek, menawarkan keuntungan, tetapi dalam jangka<br />
panjang, justru mematikan kemampuan efektif petani Indonesia.<br />
5. Persoalan pangan diidentifikasi pula sebagai hal yang terkait dengan soal kebijakan<br />
publik. Kebijakan publik pemerintah yang berjangka pendek dan amat terkait dengan<br />
economic interest dari pemangku kepentingan membuat pangan menjadi bahan<br />
spekulasi dan korupsi. Dalam jangka pendek, terjadi pembelian bahan tanaman pangan<br />
yang tidak berkelanjutan dan dampak kesehatannya dipertanyakan. Dalam jangka<br />
panjan, pelan tapi pasti, terjadi penghilangan kekuatan pangan dari Indonesia. Kasus<br />
kedelai dan jagung memberi gambaran yang jelas soal ini.<br />
6. Identifikasi soal pangan yang lain adalah dalam hal kebijakan perdagangan regional dan<br />
global. Secara perlahan, perdagangan regional dan global menjadi ajang pertarungan<br />
antara negara berkembang melawan dunia agro-korporasi. Kemampuan efektif negara<br />
dalam membangun kebijakan pangan nasional melemah, dan hal ini mempengaruhi<br />
kondisi keseharian petani dan masyarakat.<br />
7. Persoalan pangan diidentifikasi sebagai persoalan kemiskinan secara umum. Persoalan<br />
akses dan kemampuan efektif mengupayakan ekonomi berbasis agraria terkait dengan<br />
persoalan kemiskinan. Ada lingkaran kemiskinan, yaitu daya ekonomi masyarakat yang<br />
memang tergolong lemah dan miskin berhubungan dengan proses ekonomi yang tidak<br />
memberi tempat pada kelompok tersebut. Persoalan kemiskinan, seperti yang<br />
tercermin dalam “gini coefficient, dalam “daya beli masyarakat per kapita” (<em>power<br />
purchasing power per capita</em>), dalam “<em>Human Development Index”</em> amat terkait dengan<br />
persoalan pangan.<br />
<strong></strong></p>
<p style="text-align:left;"><strong>Persoalan Pangan: Kedaulatan Pangan dan Hak atas Pangan<br />
</strong>8. Persoalan pangan telah secara serius diidentifikasi oleh badan internasional dan hukum<br />
internasional. Kedaulatan pangan, menurut beberapa rumusan:</p>
<p style="text-align:left;"><em>What is Food Sovereignty? Food Sovereignty is the RIGHT of peoples,<br />
communities, and countries to define their own agricultural, labor, fishing,<br />
food and land policies which are ecologically, socially, economically and<br />
culturally appropriate to their unique circumstances. It includes the true right<br />
to food and to produce food, which means that all people have the right to<br />
safe, nutritious and culturally appropriate food and to food-producing<br />
resources and the ability to sustain themselves and their societies.<br />
Food Sovereignty requires:<br />
• Placing priority on food production for domestic and local markets, based<br />
on peasant and family farmer diversified and agroecologically based<br />
production systems<br />
• Ensuring fair prices for farmers, which means the power to protect internal<br />
markets from low-priced, dumped imports<br />
• Access to land, water, forests, fishing areas and other productive resources<br />
through genuine redistribution, not by market forces and World Bank<br />
sponsored “market-assisted land reforms.”<br />
• Recognition and promotion of women’s role in food production and<br />
equitable access and control over productive resources<br />
• Community control over productive resources, as opposed to corporate<br />
ownership of land, water, and genetic and other resources<br />
• Protecting seeds, the basis of food and life itself, for the free exchange and<br />
use of farmers, which means no patents on life and a moratorium on the<br />
genetically modified crops which lead to the genetic pollution of essential<br />
genetic diversity of plants and animals.<br />
• Public investment in support for the productive activities of families, and<br />
communities, geared toward empowerment, local control and production of<br />
food for people and local markets.<br />
Food Sovereignty means the primacy of people’s and community’s rights to food<br />
and food production, over trade concerns. This entails the support and promotion</em><em>of local markets and producers over production for export and food imports.</em></p>
<p style="text-align:left;">2002 Rome NGO/CSO Forum on Food Sovereignty<br />
June 8-13, 2002</p>
<p style="text-align:left;">
<em>Food sovereignty is the right of peoples to healthy and culturally appropriate food<br />
produced through ecologically sound and sustainable methods, and their right to<br />
define their own food and agriculture systems. It puts those who produce,<br />
distribute and consume food at the heart of food systems and policies rather than<br />
the demands of markets and corporations. It defends the interests and inclusion of<br />
the next generation. It offers a strategy to resist and dismantle the current<br />
corporate trade and food regime, and directions for food, farming, pastoral and<br />
fisheries systems determined by local producers. Food sovereignty prioritises local<br />
and national economies and markets and empowers peasant and family farmerdriven<br />
agriculture, artisanal fishing, pastoralist-led grazing, and food production,<br />
distribution and consumption based on environmental, social and economic<br />
sustainability. Food sovereignty promotes transparent trade that guarantees just<br />
income to all peoples and the rights of consumers to control their food and<br />
nutrition. It ensures that the rights to use and manage our lands, territories,<br />
waters, seeds, livestock and biodiversity are in the hands of those of us who<br />
produce food. Food sovereignty implies new social relations free of oppression and<br />
inequality between men and women, peoples, racial groups, social classes and<br />
generations.<br />
</em>Declaration Nyeleni,<br />
Forum for Food Sovereignty<br />
Mali, 27 February 2008</p>
<p style="text-align:left;"><em></em><br />
9. Persoalan pangan telah secara serius diidentifikasi oleh badan internasional dan hukum<br />
internasional. Hak atas Pangan dirumuskan sebagai:<br />
<em>… the authoritative definition of the right to food in General Comment 12 of the<br />
Committee on Economic, Social and Cultural Rights, which states that “The right<br />
to adequate food is realized when every man, woman and child, alone or in<br />
community with others, has physical and economic access at all times to adequate<br />
food or means for its procurement.”<br />
Inspired by the General Comment, the Special Rapporteur further defines the<br />
right to food as follows:<br />
“The right to food is &#8230; the right to have regular, permanent and free access,<br />
either directly or by means of financial purchases, to quantitatively and<br />
qualitatively adequate and sufficient food corresponding to the cultural traditions<br />
of the people to which the consumer belongs, and which ensures a physical and<br />
mental, individual and collective, fulfilling and dignified life free of fear.”</em><br />
(&#8230;rumusan otoritatif mengenai Hak atas Pangan yang dinyatakan dalam General<br />
Comment 12 dari Komisi PBB Ekonomi, Sosial, dan Kebudayaan (Committee on<br />
Economic, Social, and Cultural Rights), yang menyatakan bahwa “Hak atas Pangan<br />
yang memadai terwujud ketika setiap manusia, laki-laki dan perempuan, dan anakanak,<br />
baik secara sendiri atau dalam komunitas bersama orang lain mempunyai<br />
akses secara fisik dan ekonomi sepanjang waktu kepada pangan yang memadai atau<br />
cara untuk mengadakannya ”.</p>
<p style="text-align:left;">Diinspirasikan oleh General Comment tersebut, Pelapor Khusus lebih jauh<br />
merumuskan Hak atas Pangan sebagai berikut:<br />
“Hak atas Pangan adalah…hak untuk mendapatkan akses yang teratur, tetap, dan<br />
bebas, baik secara langsung atau dengan cara pembelian, atas pangan yang<br />
memadai dan cukup baik secara kuantitatif maupun kualitatif, yang berhubungan<br />
secara langsung pada tradisi dari masyarakat dimana suatu konsumsen itu berasal,<br />
dan dengan itu memastikan bahwa kehidupan fisik maupun mental, individu<br />
maupun kolektif, yang penuh dan bermartabat yang bebas dari ketakutan.”)<br />
Dari Laporan Sekjen PBB, A/57/356<br />
10. Konsep Food Sovereignty dikembangkan dalam konteks [1] kerjasama antar negara dan<br />
lembaga antar-pemerintahan internasional yang terkait dengan PBB (terkait dengan<br />
FAO, UNDP, dan lembaga pembangunan lain), [2] kebijakan publik (termasuk UNDP,<br />
UNRISD, UNIFEM, universitas dan sebagainya), dan [3] pengentasan kemiskinan multistakeholder<br />
(misalnya, Global Compact, lembaga di tingkat universitas)<br />
11. Sebagai mekanisme PBB, Hak Atas Pangan menetapkan rumusan mengenai [1] rights<br />
holder (apa dan siapa yang dilindungi), [2] model dan jenis pemajuan dan<br />
penegakannya, [3] jenis-jenis pelanggarannnya, dan [3] status hukum (yang bersifat<br />
prospektif dan progresif).</p>
<p style="text-align:left;">
<strong>Pengalaman organisasi</strong><br />
12. Ada pengalaman yang amat kaya yang sudah menjadi milik dan sejarah dari organisasi<br />
peserta. Pengalaman ini terkait pula dengan sasaran kebijakan publik atau institusi<br />
publik, kelompok atau organisasi kemasyarakatan, dan wilayah kerja. Pengalaman ini<br />
juga terkait dengan kerangka pandang (analisis) dan kerangka kerja. Misalnya, ada<br />
organisasi yang amat terlibat dalam “pengorganisiran”, ada juga organisasi yang amat<br />
terlibat dalam &#8220;pengembangan pertanian” secara langsung, namun ada juga organisasi<br />
memusatkan tenaga untuk riset. Proses lokakarya mencerminkan hal tersebut.<br />
13. Pengalaman organisasi juga menjadi sumber data dan informasi yang kaya. Dalam<br />
bentuknya yang sederhana, data dan informasi ini dapat mulai dikembangkan dalam<br />
analisis.<br />
14. Dalam hal pengembangan, tentu amat diandaikan bahwa suatu upaya untuk membaca<br />
“tantangan dan kemampuan efektif dalam menjawab tantangan”. Proses seperti SWOT,<br />
atau proses cost-benefit analysis, atau proses yang menetapkan “expected result”.<br />
Lepas dari hasil, proses ini amat penting dalam mengkonfrontir konsep ke dalam<br />
konteks keterlibatan peserta.<br />
Rujukan ke pengembangan working framework: tambahan masukan<br />
Ada beberapa masukan yang dapat ditambahkan sebagai proses pengembangan working<br />
framework.<br />
15. Diperlukan upaya pemanfaatan ragam riset dan kerangka analisis yang selama ini<br />
sudah dikembangkan. Di tingkat kepustakaan, termasuk yang berbasis on-line, ada<br />
banyak rujukan pada konsep-konsep kebijakan dalam pembangunan. Dalam hal ini,<br />
secara khusus, rujukan terhadap penghargaan nobel ekonomi dalam 10 tahun terakhir<br />
ini menyediakan data yang amat berharga. Upaya ini juga diikuti dengan upaya untuk<br />
melakukan dan membangun keterkaitan dengan dunia akademik dan riset. Upaya ini<br />
dapat sangat membantu menciptakan mainstream dalam kerja.<br />
16. Saat ini, hukum internasional mulai memperhitungkan access to justice untuk<br />
mempromosikan perubahan kebijakan, memperhatikan kelompok-kelompok marginal,<br />
dan juga menjadi kekuatan penangkal (deterrent). Salah satu aspek penting, untuk<br />
merujuk salah satunya, adalah soal pembukaan akses atas sumber daya agraria untuk<br />
ikut dikontrol dan didayagunakan oleh masyarakat. Hukum internasional mengakui<br />
“tanggung gugat” dari pelaku pelanggaran HAM, dalam hal ini dalam soal pangan.<br />
17. Pendekatan dalam soal networking dan stakeholding dapat dicermati lebih jauh dalam<br />
kontribusinya mengembangkan advokasi kedaulatan pangan. Tanpa harus melibatkan<br />
semua pihak untuk segala sesuatu, ada tujuan-tujuan jangka pendek dan jangka<br />
menengah yang membutuhkan jenis dan pola networking dan stakeholding yang<br />
memang mendukung hal tersebut.<br />
Krisis Pangan: dari tindakan global ke respon lokal<br />
18. Krisis Pangan dicermati bukan hanya sebagai sesuatu yang terkait dengan krisis energi,<br />
namun banyak hal sebenarnya sudah terprediksi. Krisis pangan, dalam prediksi itu,<br />
terkait dengan industrialisasi tanaman pangan dan produk pangan, peralihan energi<br />
dengan pemanfaatan tanaman pangan, monokultur pertanian dan perkebunan,<br />
kebijakan dan rezim perdagangan, serta kekuatan negara yang tidak dikelola untuk<br />
tujuan jangka panjang.<br />
19. Teks di bawah ini adalah bagian dari kerangka analisis dan advokasi, sebagaimana yang<br />
dikerjakan oleh badan HAM PBB, dan juga hukum internasional yang terkait dengan hak<br />
asasi manusia.</p>
<p style="text-align:left;">LAMPIRAN DOKUMEN:</p>
<p style="text-align:left;">ADVANCE EDITED VERSION<br />
UNITED NATIONS E<br />
Economic and Social Council<br />
Distr. GENERAL E/C.12/2008/1<br />
19 May 2008<br />
Original: ENGLISH<br />
COMMITTEE ON ECONOMIC, SOCIAL AND CULTURAL RIGHTS<br />
Fortieth session, 28 April – 16 May 2008</p>
<p style="text-align:left;"><strong>The World Food Crisis<br />
Statement</strong><br />
1. The Committee on Economic, Social and Cultural Rights is alarmed at the rapid worldwide<br />
rise in food prices and the soaring energy prices that have precipitated a global food crisis and<br />
are adversely affecting the right to adequate food and freedom from hunger as well as other<br />
human rights of more than 100 million people.<br />
2. The world has lived for too many years with a chronic crisis of 854 million people<br />
suffering from food insecurity and two billion people suffering from malnutrition and<br />
undernutrition.<br />
3. Prices of basic staple foods (including rice, maize, wheat etc) have risen by up to 60 per<br />
cent around the world. The poorest people in the world are the most severely affected as they<br />
already spend up to 60- 80 per cent of their income on food, compared with 20 per cent in the<br />
developed world.<br />
4. The food crisis underscores the interdependence of all human rights, as the enjoyment of<br />
the human right to adequate food and freedom from hunger is of paramount importance for<br />
the enjoyment of all other rights, including the right to life.<br />
5. The Committee calls upon all States to revisit their obligations under article 25 of the<br />
Universal Declaration of Human Rights, and article 11 of the International Covenant on<br />
Economic, Social and Cultural Rights. Under article 11(1) of the Covenant, States parties<br />
recognize “the right of everyone to an adequate standard of living for himself and his family,<br />
including adequate food, clothing and housing and to the continuous improvement of living<br />
conditions”.<br />
6. In its general comment No. 12 (1999) on the right to adequate food, the Committee affirms<br />
that “the right to adequate food is indivisibly linked to the inherent dignity of the human<br />
person and is indispensable for the fulfillment of other human rights enshrined in the<br />
International Bill of Human Rights4.<br />
7. All State parties are obliged to ensure for everyone within their jurisdiction physical and<br />
economic access to the minimum essential food, which is sufficient, nutritionally adequate<br />
and safe, to ensure freedom from hunger5.<br />
8. Under article 11(2) of the Covenant, States parties recognize the “fundamental right of<br />
everyone to be free from hunger”. In its general comment No. 12, the Committee underlines<br />
the fact that “States have a core obligation to take the necessary action to mitigate and<br />
alleviate hunger as provided for in paragraph 2 of article 11, even in times of natural or other<br />
disasters”6, and that the core content or the minimum essential levels of the right to adequate<br />
food and freedom from hunger implies “the availability of food in a quantity and quality<br />
sufficient to satisfy the dietary needs of individuals, free from adverse substances, and<br />
acceptable within a given culture, and the accessibility of food in ways that are sustainable<br />
and do not interfere with the enjoyment of other human rights”7.<br />
9. The current food crisis represents a failure to meet the obligations to ensure an equitable<br />
distribution of world food supplies in relation to need. The food crisis also reflects failure of<br />
national and international policies to ensure physical and economic access to food for all.<br />
10. The Committee calls upon all States to address the immediate causes of the food crisis,<br />
individually through national measures, as well as internationally through international<br />
cooperation and assistance to ensure the right to adequate food and freedom from hunger. The<br />
Committee notes that many of the measures undertaken to help States and persons affected by<br />
the crisis are of a humanitarian nature and supports their immediate implementation.<br />
11. The Committee therefore urges States to take urgent action, including by:<br />
- Taking immediate action, individually and through international assistance, to<br />
ensure freedom from hunger through, inter alia, the provision and distribution of<br />
emergency humanitarian aid without discrimination8. Humanitarian aid should be<br />
provided in cash resources wherever possible.<br />
- Where food aid is provided, care should be taken to ensure that food is<br />
purchased locally wherever possible and that it does not become a disincentive for<br />
local production. Donor countries should prioritize assistance to States most affected<br />
by the food crisis;<br />
- Limiting the rapid rise in food prices by, inter alia, encouraging production of<br />
local staple food products for local consumption instead of diverting prime arable<br />
land suitable for food crops for the production of agrofuels, as well as the use of food<br />
crops for the production of fuel, and introducing measures to combat speculation in<br />
food commodities;<br />
- Establishing an international mechanism of coordination to oversee and<br />
coordinate responses to the food crisis and to ensure the equitable distribution of food<br />
supplies according to need, and that the policy measures adopted will respect, protect<br />
and fulfill the realization of the right to adequate food and freedom from hunger.<br />
12. The Committee also calls upon States to pay attention to the longer-term structural causes<br />
of the crisis and to focus attention on the gravity of the underlying causes of food insecurity,<br />
malnutrition and undernutrition, that have persisted for so long.<br />
13. The Committee urges States parties to address the structural causes at the national and<br />
international levels, including by:<br />
- Revising the global trade regime under the WTO to ensure that global<br />
agricultural trade rules promote, rather than undermine, the right to adequate food and<br />
freedom from hunger, especially in developing and net food-importing countries;<br />
- Implementing strategies to combat global climate change that do not<br />
negatively affect the right to adequate food and freedom from hunger, but rather<br />
promote sustainable agriculture, as required by article 2 of the United Nations<br />
Framework Convention on Climate Change;<br />
- Investing in small-scale agriculture, small-scale irrigation and other<br />
appropriate technologies to promote the right to adequate food and freedom from<br />
hunger for all, including implementing the recommendations of the International<br />
Assessment of Agricultural Science and Technology for Development (IAASTD) of<br />
20089.<br />
- Introducing and applying human rights principles, especially those relating to<br />
the right to adequate food and freedom from hunger, by undertaking ex ante impact<br />
assessments of financial, trade and development policies at both the national and<br />
international levels, to ensure that their bilateral and multilateral financial, trade and<br />
development commitments do not conflict with their international human rights<br />
obligations, particularly under the Covenant.<br />
- Applying and reinforcing the FAO’s “Voluntary Guidelines to Support the<br />
Progressive Realization of the Right to Adequate Food in the Context of National<br />
Food Security”, in the light of the present food crisis.<br />
14. In conclusion, the Committee emphasizes that the world food crisis severely affects the<br />
full realization of the human right to adequate food and to be free from hunger, and therefore<br />
calls upon all States to fulfill their basic human rights obligations under the Covenant.</p>
<p style="text-align:left;">INDEX:</p>
<p style="text-align:left;">1 Catatan kerja ini ditulis untuk PSM (Pusat Studi Masyarakat), terkait dengan proses lokakarya.<br />
2 Adviser untuk IHCS (Indonesian Human Righs Committee for Social Justice) dan PSM</p>
<p style="text-align:left;">3 Adopted by the Committee on Economic, Social and Cultural Rights on 16 May 2008 during its<br />
fortieth session (25th meeting).</p>
<p style="text-align:left;">4 See general comment No. 12, para. 4<br />
5 Ibid., paras. 15 and 36.<br />
6 Ibid., para. 6.<br />
7 Ibid., para. 8.<br />
8 Ibid., para. 18.</p>
<p style="text-align:left;">9 See www.agassessment.org.</p>
<p style="text-align:left;">tentang penulis</p>
<p style="text-align:left;">Henry Thomas Simarmata<br />
e-mail : manekabulan@yahoo.com<br />
current affiliation/address:<br />
► Adviser<br />
Indonesian Human Rights Community for Social Justice (IHCS)<br />
Jl. Budhi I/No.2, Slipi, Kebon Jeruk, Jakarta<br />
Tel./Fax. +62-21-530 5664<br />
kantor_ihcs@yahoo.co.id<br />
► Adviser<br />
Pusat Study Masyarakat,<br />
Jl. Swadaya No 655 MJI Gedongkiwo<br />
other affiliation/address:<br />
Research Center for Islam and Indonesia<br />
jl. Gabus Raya No.20, Rawa Bambu,<br />
Pasar Minggu, Jakarta Selatan<br />
Tel./fax. +62-21-780 5527<br />
curriculum vitae:<br />
1. Driyarkara School of Philosophy (1995-2002; again begin in 2006-… )<br />
1.1. Chair of Student Senate 1997-1998<br />
2. Jakarta Social Institute (1995-2001)<br />
3. Jakarta Institute of Labour (2001-2002) –Chairperson<br />
4. Internship for Human Rights and Diplomatic course, at 55th session of UN Commission on<br />
Human Rights (with Pax Romana), Geneva (1999)<br />
5. Indonesian Legal Aid and Human Rights Association –PBHI (2003-2006)<br />
5.1. Division of Research (2003-2004)<br />
5.2. as External Coordinator (2004-2006)<br />
5.3. as Adviser (2006)<br />
5.4. Representative to Forum Asia (2004-2006)<br />
5.5. Conflict resolution on Aceh &amp; Papua(2003-2006)<br />
5.6. Indonesian participant to ICCO conference (Utrecht, the Netherlands, November<br />
2005)<br />
5.7. legal adviser to Irwandi Jusuf (of Free Aceh Movement-GAM), M. Nazar (of<br />
Information Center for Aceh Referendum-SIRA) on matter of Prison Treatment (to<br />
Directorate-General of Correction Service), Aceh conflict-resolution (2005)<br />
5.8. Adviser to Cooperation with University of Oslo, on Right to Food (2006-2007)<br />
5.9. Post-Tsunami Response, Banda Aceh, Jakarta (2005-2006)<br />
5.10. adviser to “Papua Land of Peace” initiative (Jayapura, Jakarta, Geneva) (2005-<br />
June 2007)<br />
5.11. Legal team of Legal Suit of “Suai, Liquica, Maliana Massacre 1999” to Dili Special<br />
Court for Serious Crime (affiliated with UN-SPSC), with HAK Association, Dili<br />
East Timor<br />
kedaulatan pangan-psm-agustus2008<br />
5.12. Training and Counsel to victims group of 1999 Massacre, with HAK Association,<br />
Dili, East Timor<br />
6. Member of the Executive Committee of Forum Asia, Bangkok (2004-2006)<br />
6.1. Acting Chairperson of the Executive Committee of Forum Asia (Nov. 2005-Febr<br />
2006)<br />
6.2. Member of team, to 61st session of UN Commission on Human Rights, Geneva,<br />
2005<br />
6.3. Participant to the meeting of Human Rights Challenge in Asia, Kuala Lumpur,<br />
Malaysia (November 2005)<br />
7. Indonesia Participant to GPPAC (Global Partnership for Prevention of Armed Conflict),<br />
Manila, the Philippines (2005)<br />
8. Asean Civil Society Forum –on Vienna +10, participant, UN-ESCAP, Bangkok (2003)<br />
9. Asean Civil Society Forum –on Millenium Development Goals, participant, UN-ESCAP,<br />
Bangkok (2004)<br />
10. Presentation on Public Discussion on UN-Reform, HRWG-CSIS, Jakarta (2005)<br />
11. Participant and Contributor in Human Rights Dialogue, Norway-Indonesia, Oslo (May<br />
2005)<br />
12. Participant in Human Rights Dialogue, Norway-Indonesia, Jakarta, (May 2006)<br />
13. Participant to Asia-Consultative Meeting on Tsunami-Response, Bangkok (February<br />
2005)<br />
14. Assistant to Working Visit of Ms. Wan Hea-Lee, Asia-Pacific Acting Representative of UN<br />
High Commissioner on Human Rights for Tsunami-Reponse, Aceh (January 2005)<br />
15. Participant and Contributor to “International Consultation on Conflict Resolution: Case of<br />
Sri Lanka, Northern Ireland, Aceh”, Bangkok (July 2004)<br />
16. Legal Representative to Greenpeace, 2005 Campaign (2005)<br />
17. Chief economist of euroconsulting (2000-2002, 2006-present)<br />
18. Indonesian Study and Advocacy Centre (Ciputat), adviser (2000-present)<br />
-courses on multi-national democracy, regionalism studies, post-communism regime,<br />
social policy<br />
19. Adviser to Pusat Studi Islam dan Kenegaraan (Centre for Islam and State Study),<br />
Paramadina University (on Welfare State and Public Policy) (June 2006-present)<br />
20. Policy consultant group to Jogja autonomy, Jurumartani Research Associate (february<br />
2006-present)<br />
21. post-quake Jogja, with SAMIN (Sekretariat Anak Merdeka Indonesia-Indonesian<br />
Secretariat for Independent Children), June 2006-June 2007<br />
22. Associate Counsel, Papua Advisory Group (July 2007-present)<br />
23. Associate Counsel, Pusat Study Masyarakat (Center for Society Research), Jogja (2006-<br />
present)<br />
24. Adviser to Pusat Studi Islam dan Kenegaraan (PSIK)/ Center for Islam and State Studies,<br />
Universitas Paramadina<br />
25. Adviser to Indonesian Human Rights Committee for Social Justice (2007-present)<br />
Book or writing, including<br />
26. “Right to Food, from Justiciability to Agrarian Reform” (editor and of chapter 1) (book) , of<br />
PBHI-University of Oslo, 2006-2007 –excluded chapter 1, in Bahasa<br />
27. Krisis di Masyarakat Miskin (Crisis in Urban Poor) (book), 1999 (Jakarta Social Institute) –<br />
in bahasa<br />
28. “Problem of Unemployment in 3 snapshots: Phelps, Meade, and Layard”, Journal of<br />
Paramadina University, September 2007<br />
29. “Membaca Konservatisme di Amerika Serikat” (Reading conservatism in USA), PSIKParamadina<br />
University, March 2007 –in bahasa<br />
kedaulatan pangan-psm-agustus2008<br />
30. “Turkey: a case of a nation state in the post-cold world” (on Turkey and Laicism), A brief<br />
contribution to the discussion “Turkey between Secularism and Islam” with a presentation<br />
by DR. Ümit Cizre of Bilkent Üniversitesi, a joint event of PSIK (Centre for Islam and<br />
State Studies) of Paramadina University, Jakarta, and Fridereich Ebert Stiftung (FES)-<br />
Indonesia Resident Office, August 2007<br />
31. “Globalisasi dan Negara Kesejahteraan: pilihan dan perbandingan pengalaman”<br />
(Globalisation and Welfare-State: choices and comparative experiences) (book), PSIKParamadina<br />
University, (November 2007)</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/studymassa.wordpress.com/33/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/studymassa.wordpress.com/33/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/studymassa.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/studymassa.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/studymassa.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/studymassa.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/studymassa.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/studymassa.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/studymassa.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/studymassa.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/studymassa.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/studymassa.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/studymassa.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/studymassa.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/studymassa.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/studymassa.wordpress.com/33/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=studymassa.wordpress.com&amp;blog=1859635&amp;post=33&amp;subd=studymassa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://studymassa.wordpress.com/2008/09/02/rencana-strategi-advokasi-kedaulatan-pangan-sebuah-pandangan-internasional/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a7bfe499d9bc30cf6834e4b56a96f022?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">studimassa</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>“ ATAS NAMA NASIONALISME “</title>
		<link>http://studymassa.wordpress.com/2008/02/15/%e2%80%9c-atas-nama-nasionalisme-%e2%80%9c/</link>
		<comments>http://studymassa.wordpress.com/2008/02/15/%e2%80%9c-atas-nama-nasionalisme-%e2%80%9c/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 15 Feb 2008 18:48:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>studimassa</dc:creator>
				<category><![CDATA[tentang psm_yogyakarta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://studymassa.wordpress.com/2008/02/15/%e2%80%9c-atas-nama-nasionalisme-%e2%80%9c/</guid>
		<description><![CDATA[“ ATAS NAMA NASIONALISME “ Mentahnya nasionalisme dianggap menjadi penyebab sekian persoalan kebangsaan di Indonesia saat ini. Tak hanya negara, rakyat pun banyak mendapat gugatan atas pemaknaan dan pemahamannya atas “nasionalisme” sebagai sebuah identitas. Berikut ini pandangan Syafiq Aleiha, Mantan Ketua Umum Dewan nasional Front Perjuangan Pemuda Indonesia (FPPI), mengenai fenomena yang semakin memburuk ini. Apakah “nasionalisme” [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=studymassa.wordpress.com&amp;blog=1859635&amp;post=31&amp;subd=studymassa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><b><span style="font-size:16pt;font-family:Arial;">“ ATAS NAMA NASIONALISME “</span></b><b><span style="font-family:Arial;"> </span></b><i><span style="font-family:Arial;">Mentahnya nasionalisme dianggap menjadi penyebab sekian persoalan kebangsaan di </span></i><i><span style="font-family:Arial;">Indonesia</span></i><i><span style="font-family:Arial;"> saat ini. Tak hanya negara, rakyat pun banyak mendapat gugatan atas pemaknaan dan pemahamannya atas “nasionalisme” sebagai sebuah identitas. Berikut ini pandangan Syafiq Aleiha, Mantan Ketua Umum Dewan nasional Front Perjuangan Pemuda Indonesia (FPPI), mengenai fenomena yang semakin memburuk ini.</span></i><i><span style="font-family:Arial;"> </span></i><i><span style="font-family:Arial;">Apakah “nasionalisme” termasuk salah satu identitas bagi negara?</span></i><span style="font-family:Arial;">Ya, bisa kita sebut sebagai identitas. Nasionalisme atau identitas <i>nation </i>sendiri muncul karena adanya konsep modern dan tidak kita bawa sejak lahir. Ia (nasionalisme, baca) lahir pada 1920 sebagai cita-cita akan sebuah negara bangsa, sebelumnya kita belum menemukan negara bangsa. Studi-studi tentang <i>nation-state </i>di nusantara juga relatif baru, seperti yang diajukan Benedict Anderson. Gagasan-gagasan awal tentang <i>nation-state </i><span> </span>yang kemudian mendasari munculnya ideologi “nasionalisme” juga baru. Ketika Ernast Renan mendefinisikan <i>what is nation? </i>Dia menyebutnya bahwa nasionalisme adalah jiwa. Seperti dikutip Soekarno, nasionalisme merupakan <i>soul of spiritual principle. </i>Dari situ sebenarnya nasionalisme bisa saja disebut sebagai identitas. Identitas <i>nation </i><span> </span>bisa saja seperti identitas orang dengan suku tertentu, tapi ia masih punya peluang untuk merubah, sehingga bukan identitas yang </span><span style="font-family:Arial;">baku</span><span style="font-family:Arial;"> dan mati.</span><span style="font-family:Arial;">Ernast Renan, pencetus gagasan nasionalisme, mengatakan bahwa bangsa merupakan solidaritas tertinggi yang lahir akibat pengalaman sejarah penderitaan komunal. Solidaritas inilah yang menjadi dasar utama adanya komunitas hari ini dan masa depan. Sebagaimana halnya </span><span style="font-family:Arial;">Indonesia</span><span style="font-family:Arial;">, menyadari kekuatan dan potensinya sebagai masyarakat multi etnik, muncullah keinginan merdeka. Dengan mempersatukan masyarakat nusantara, lepaslah </span><span style="font-family:Arial;">Indonesia</span><span style="font-family:Arial;"> dari cengkeraman Belanda. Apalagi dengan dorongan kekuatan politis yang telah ada sebelumnya, seperti ditunjukkan oleh garis batas wilayah pengawasan kerajaan-kerajaan nusantara pada masa lampau.</span><span style="font-family:Arial;">Sedangkan menurut Ernest Gellner, nasionalisme merupakan konsekuensi dari bentuk baru pengorganisasian masyarakat yang bersandar pada budaya tinggi yang dibentuk oleh kaum persekolahan dan dijaga oleh negara. Dalam bukunya, <i>Nation and Nationalism, </i>ia menolak jika dikatakan bahwa bangsa merupakan komunitas alamiah. Bagi Gellner, kaum terdidik borjuis acapkali menempati posisi tokoh utama dalam proses pembentukan bangsa. Nasionalisme bukanlah bangkitnya kekuatan masa lalu yang laten atau tertidur, kendati memiliki klaim seolah-olah demikian. Menanggapi adanya perbedaan teoretis tersebut, Lutfi Rahman, pengamat sosial politik dari Lembaga Kajian Islam dan Sosial (LkiS) berpendapat, ada beberapa hal yang melandasi lahirnya nasionalisme Indonesia. <i>Pertama, </i>Islam yang mampu mengikat masyarakat nusantara yang multi etnik melampau batas-batas ras, suku, dan budaya, dalam konteks melawan belanda. “stigmatisasi bahwa kolonialisme identik dengan kafir, dan masyarakat nusantara yang mayoritas muslim wajib memeranginya, merupakan stimulus yang efektif”. <i>Kedua, </i>masuknya pengetahuan modern yang bertautan dengan paham Jawa yang melahirkan struktur priyayi dan rakyat. Hal ini merupakan kontribusi cukup besar bagi kaum terdidik di nusantara untuk membangun mimpinya tentang </span><span style="font-family:Arial;">Indonesia</span><span style="font-family:Arial;">. <i>Ketiga, </i>masuknya gagasan <i>“Kiri”, </i>seperti SI Semarang yang mulai membedakan antara rakyat, proletar, dan kolonial Belanda dimasukkan dalam kategori kelompok borjuis.</span><span style="font-family:Arial;">Dari ketiga hal ini menurut Luthfi, pengalaman dan cita-cita tentang sebuah masyarakat dalam pengelolaan infrastrukturnya terbentuk. Meskipun waktu itu perdebatannya sebatas kolonialisme belanda. “Kita bisa meniru Sun Yat Sen atau Ibnu Saud, yang lebih mengedepankan kemerdekaan terlebih dahulu. Sedangkan bentuk dan pengelolaan negara adalah hal berikutnya”, demikian Luthfi menyitir pernyataannya Soekarno waktu itu.</span><span style="font-family:Arial;">Sementara itu, menurut Kusnanto anggoro, pengamat politik LIPI, lunturnya kesadaran kebangsaan selama ini disebabkan karena negara lebih menggunakan pendekatan militer. Kendati bertanggung jawab sebagai instrumen pembina kebangsaan, suatu kesalahan jika negara menggunakan cara-cara militer sebagai media untuk mempersatukan bangsa. Kekerasan hanya bisa menyelesaikan persoalan keutuhan wilayah secara fisik saja. Sedangkan jiwa nasionalisme tidak akan pernah bisa dibentuk dengan kekerasan. Kusnanto juga berpendapat bahwa pemaknaan nasionalisme pasca perang dingin harus berbeda dengan nasionalisme era sebelumnya. Saat ini, nasionalisme hanya dimaknai sebagai stabilitas ekonomi-politik. Sehingga ketika terjadi ketidakstabilan ekonomi-politik, besar kemungkinan akan timbul <i>etno nasionalisme, </i>yakni nasionalisme yang lebih menonjolkan identitas kecil dan mengabaikan yang lebih besar. Fenomena ini biasanya terjadi di negara-negara yang plural seperti Semenanjung Balkan, </span><span style="font-family:Arial;">Rwanda</span><span style="font-family:Arial;"> dan beberapa negara Amerika Tengah dimasa etno-nasionalisme lebih dominan. Padahal kecenderungan ini akan mengancam konsepsi <i>nation-state.</i> </span><span style="font-family:Arial;">Untuk menghadapi ancaman etno-nasionalisme dalam konteks Indonesia harus dibedakan antara <i>nation-etnic group, </i>yang bisa diberi hak politik (political right) sekaligus kebebasan warga sipil (civil liberties), dengan <i>etnic group </i>yang hanya diberi <i>civil liberties </i>tanpa harus mendapatkan <i>polical right. </i>Kendati demikian, pengakuan otonomi kultural mesti tetap diberikan. Pengamat politik LIPI ini juga menyarankan, </span><span style="font-family:Arial;">Indonesia</span><span style="font-family:Arial;"> harus melakukan transparasi dalam memahami nasionalisme dan nasionalitas. Sebab, sebagai sebuah proyek yang dilakukan negara, nasionalisme memerlukan sebuah pemerintahan yang efektif sekaligus legitimasi dari publik. Untuk itu saluran-saluran demokratisasi akan menjadi instrumen penting dalam menciptakan ke-Indonesia-an bersama. Di samping itu, negara memiliki peran penting dalam mencegah berbenturan nasionalitas satu dengan yang lainnya. Konsep multikulturalisme misalnya menuntut memiliki <i>multipledentity. </i>Artinya, rakyat sebagai etno-nasionalisme, tetapi juga mempunyai nasionalitas dan juga kewarganegaraan. Baru ketika bertiganya berdampingan, bisa dilanjutkan dengan berbicara Indonesianitas atau keindonesiaan. Tapi yang penting, kita harus saling menghormati, bertanggung jawab dan solidaritas untuk mempertahankan </span><span style="font-family:Arial;">Indonesia</span><span style="font-family:Arial;"> sebagai bangunan negara tanpa mengorbankan esensi nasionalisme dan nasionalitas yang lebih kecil.<span>  </span></span><span style="font-family:Arial;"> </span><i><span style="font-family:Arial;">Kapan seorang warga negara harus menggunakan atau menanggalkan “nasionalisme”?</span></i><span style="font-family:Arial;"><span>            </span>Nasionalisme paling relevan ketika digunakan untuk melawan imperialisme. Karena sebagian besar kebangkitan nasionalisme adalah talenta guna menentang imperialisme. Terutama diluar Eropa, nasionalisme lebih digunakan untuk mengusir penjajah. Konteks Eropa, nasionalisme lebih didasari semangat modernisme, sebuah organisasi negara yang berawal dari kerajaan, berubah menjadi negara bangsa. Nasionalisme juga bisa digunakan untuk konteks hubungan satu bangsa dengan lainnya melalui kaca mata identitas sebagai sebuah <i>nation </i>tertentu. Sebenarnya secara politik-ekonomi-budaya, nasionalisme menjadi relevan untuk dikemukakan. Fenomena dominasi dan hegemoni ekonomi-politik-budaya negara-negara maju lebih <i>western oriented, </i>atau </span><i><span style="font-family:Arial;">America</span></i><i><span style="font-family:Arial;"> centris, </span></i><span style="font-family:Arial;">nasionalisme menjadi relevan untuk dimunculkan kembali. Bukan dengat semangat untuk mengkotak-kotakan bangsa manusia, tapi untuk mendorong <i>balancing of power </i>dan penegakan demokrasi. Sebab demokrasi akan berjalan apabila <i>balancing of power </i><span> </span>telah terpenuhi. Semua itu bisa muncul kalau ada semacam kekuatan sebuah bangsa tertentu yang mau memperjuangkan identitas kebangsaannya. Tapi pada level tertentu, <i>nation </i><span> </span>menjadi tidak relevan digunakan ketika dia menjadi tertutup, seperti nasionalisme ala Hitler, yang menggasak ras atau bangsa lain.</span><span style="font-family:Arial;"> </span><i><span style="font-family:Arial;">Akankan konsep nasionalisme selalu muncul dari penguasa atau kelompok bangsawan?</span></i><span style="font-family:Arial;"><span>            </span>Untuk fenomena </span><span style="font-family:Arial;">Indonesia</span><span style="font-family:Arial;">, nasionalisme memang menjadi monopoli penguasa. Kasus Aceh misalnya, tentara menyatakan atas nama nasionalisme, kemudian bangsa sendiri di gasak, dibunuh dan dibantai. Itulah bahaya dari pemikiran buta nasionalisme. Namun kalau kita mau jujur, semua ideologi bahkan agama pun memiliki bahaya serupa. Apa dan siapa yang dianggap menyimpang dan tidak murni, akan mendapat hukuman serta tidak diakui. Maka problem sesungguhnya adalah persoalan demokrasi, bahkan sampai pada pemaknaan nasionalisme. Dan pilihan nasionalisme fanatik seperti yang ada di kepala jenderal-jenderal yang memberlakukan operasi militer di Aceh itu? Ataukan nasionalisme seperti yang diusung para generasi awal abad 20-an ketika mereka menentang kolonialisme Eropa? Pilihan kedua inilah yang sebenarnya harus kita usung. Karena pada dasarnya, nasionalisme merupakan kebebasan dari kekuatan eksternal atau <i>free from external contrain.</i></span><span style="font-family:Arial;"><span>            </span>Rakyat Aceh melihat Soekarno dan Hatta sebagai seorang muslim, serta teriakan <i>“Allahu Akbar” </i><span> </span>oleh rakyat </span><span style="font-family:Arial;">Surabaya</span><span style="font-family:Arial;"> saat itu melawan Belanda, itulah yang membuat Aceh menyatakan bagian dari Republik </span><span style="font-family:Arial;">Indonesia</span><span style="font-family:Arial;"> waktu itu. Adanya kesamaan agama sebagai faktor pemupuk nasionalisme ini juga pernah dilontarkan oleh MT Kahin. Dalam bukunya <i>Refleksi Pergumulan Lahirnya Republik, </i>ia menuliskan bahwa islam bukan hanya suatu ikatan biasa, tetapi benar-benar menjadi semacam simbol melawan kelompok dalam <i>(in group) untuk melawan pengganggu asing. </i>Menurutnya, rakyat Aceh bersedia bergabung dengan NKRI saat proklamasi 1945, hanya didasari sentimen agama yang sama waktu itu.</span><span style="font-family:Arial;">Kian memudarnya nasionalisme juga disebabkan karena tertutupnya perdebatan tentang bagaimana bangsa ini hendak dikelola. Menurut Luthfi Rahman, hal ini mulai terjadi saat momentum Dekrit Presiden masa Soekarno dan berlanjut hingga rezim Soeharto. Akibatnya, tidak ada lagi diskursus mengenai <i>nation </i>maupun <i>state </i>bagi </span><span style="font-family:Arial;">Indonesia</span><span style="font-family:Arial;">. Membuka kembali perdebatan ini merupakan hal penting, karena adanya endapan yang tertahan ketika penindasan yang dilakukan Orde Baru.<span>  </span></span><span style="font-family:Arial;"><span>            </span></span><i><span style="font-family:Arial;">Dalam konteks Indonesia, adakah masyarakat yang mengakui atau menggunakan nasionalisme sebagai salah satu identitas?</span></i><span style="font-family:Arial;"><span>            </span>Banyak orang </span><span style="font-family:Arial;">Indonesia</span><span style="font-family:Arial;"> mengakui. Seperti yang kita saksikan, masihbanyak orang menonton badminton, sepak bola ataupun pertandingan olah raga lainnya yang melibatkan tim nasional </span><span style="font-family:Arial;">Indonesia</span><span style="font-family:Arial;">. Itu adalah contoh dari unsur-unsur nasionalisme, walaupun yang paling sepele. Sebab dalam kehidupan sehari-hari, memang nasionalisme acapkali tidak digunakan. Karena nasionalisme bukan soal <i>every day live politic </i>(politik sehari-hari). Seorang petani yang tiap hari ke sawah, dalam pergaulannya akan lebih mengedepankan sisi petani sebagai identitas, ketimbang nasionalisme. Dalam gagasan dan lingkup kecil dia tidak akan banyak bersentuhan dengan nasionalisme, sehingga ia tak perlu mengungkapkan hal itu. Karena memang tak cukup ruang untuk memunculkannya. Orang-orang yang banyak menggunakan identitas bangsa, sebenarnya mereka yang sering berhubungan lintas negara.</span><span style="font-family:Arial;"> </span><i><span style="font-family:Arial;"> </span></i><i><span style="font-family:Arial;"> </span></i></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/studymassa.wordpress.com/31/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/studymassa.wordpress.com/31/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/studymassa.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/studymassa.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/studymassa.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/studymassa.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/studymassa.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/studymassa.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/studymassa.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/studymassa.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/studymassa.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/studymassa.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/studymassa.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/studymassa.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/studymassa.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/studymassa.wordpress.com/31/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=studymassa.wordpress.com&amp;blog=1859635&amp;post=31&amp;subd=studymassa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://studymassa.wordpress.com/2008/02/15/%e2%80%9c-atas-nama-nasionalisme-%e2%80%9c/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a7bfe499d9bc30cf6834e4b56a96f022?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">studimassa</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kronologi Banjir di Solo, 27 Desember 2007</title>
		<link>http://studymassa.wordpress.com/2007/12/28/kronologi-banjir-di-solo-27-desember-2007/</link>
		<comments>http://studymassa.wordpress.com/2007/12/28/kronologi-banjir-di-solo-27-desember-2007/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 28 Dec 2007 16:06:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>studimassa</dc:creator>
				<category><![CDATA[tentang psm_yogyakarta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://studymassa.wordpress.com/2007/12/28/kronologi-banjir-di-solo-27-desember-2007/</guid>
		<description><![CDATA[(Yayasan Lestari Indonesia, Pusat Study Masyarakat [PSM] Yogyakarta, Gerakan Jogja Bangkit [GJB], Forum Suara Korban &#8211; Yogyakarta)  Kronologi Banjir di Solo 27 Desember 2007 Pada tanggal 25 Desember 2007 di sekitar solo telah terjadi hujan lebat sehingga air dari bengawan Solo meluap dalam waktu yang sangat singkat pada tanggal 26 Desember 2007 antara jam 04.00 [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=studymassa.wordpress.com&amp;blog=1859635&amp;post=22&amp;subd=studymassa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-family:Arial;"><span style="font-family:Arial;"><strong>(Yayasan Lestari Indonesia, Pusat Study Masyarakat [PSM] Yogyakarta, </strong></span></span><span style="font-family:Arial;"><span style="font-family:Arial;"><strong>Gerakan Jogja Bangkit [GJB], Forum Suara Korban &#8211; Yogyakarta)</strong></span><span><font face="Times New Roman"> </font></span></span><span style="font-family:Arial;"></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><span><font face="Times New Roman">Kronologi Banjir di Solo</font></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><span><font face="Times New Roman">27 Desember 2007</font></span></p>
<p><span><font face="Times New Roman"></font></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><span><font face="Times New Roman">Pada tanggal 25 Desember 2007 di sekitar solo telah terjadi hujan lebat sehingga air dari bengawan Solo meluap dalam waktu yang sangat singkat pada tanggal 26 Desember 2007 antara jam 04.00 – 07.00 wib luapan air dari bengawan solo semakin tinggi sekitar kurang lebih 4 m di sepanjang bantaran bengawan solo sehingga rumah yang berada di bantaran bengawan tersebut ketinggiannya sampai 4 m sedangkan banjir yang masuk ke rumah perkampungan di seberang bengawan ketinggiannya rata-rata 1,5 m di seluruh kecamatan Jebres dan kecamatan pasar kliwon.</font></span></p>
<p><span><font face="Times New Roman"></font></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><span><font face="Times New Roman">Desa tersebut antara lain di kecamatan Jebres adalah Desa Jagalan, Kampung Sewu, dan di kecamatan pasar kliwon adalah desa Sangkrah dan Joyontakan Sedangkan korban banjir tersebut rata-rata tidak mau mengungsi dan lebih memilih buka tenda seadanya di sekitaran tanggul.</font></span></p>
<p><span><font face="Times New Roman"></font></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><span><font face="Times New Roman">Kondisi rumah di perkampungan tidak begitu parah sedangkan rumah yang di tepi bantaran bengawan solo rata-rata rusak ringan dan banyak perabotan rumah yang hilang dan rusak akibat terseret banjir.</font></span></p>
<p><span><font face="Times New Roman"></font></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><span><font face="Times New Roman">Bantuan untuk korban banjir sebagian besar baru peseoarang aja, sedangkan pihak pemerintah setempat terutama satkorlak hanya baru sebatas membantu evakuasi korban banjir, akan tetapi warga korban banyak yang tidak mau diungsingkan, warga tetap memilih tetap di rumah sambil mengawasi perabotan yang ada di dalam rumah.</font></span></p>
<p><span><font face="Times New Roman"></font></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><span><font face="Times New Roman">Kondisi anak banyak yang terkena penyakit gatal-gatal karena disebabkan anak-anak dan para perempuan banyak yang mandi pakai air banjir, maka kebutuhan yang sangat mendesak adalah memeriksa kesehatan anak-anak yang diakibatkan pasca banjir.</font></span></p>
<p><span><font face="Times New Roman"></font></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><span><font face="Times New Roman">Sampai saat ini belum ada tindakan kongkrit dari instansi setempat, baru sebatas membersihkan jalan dan fasilitas umum serta baru pendataan di tiap-tiap posko yang ada di kelurahan masing-masing.</font></span></p>
<p><span><font face="Times New Roman"></font></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><span><font face="Times New Roman">Banjir saat ini sudah surut sejak jam 10.00 wib pagi tadi dan warga sudah mulai beraktivitas membersikan rumahnya masing-masing dan disetiap RW sudah ada dapur umum.</font></span></p>
<p><span><font face="Times New Roman"></font></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><span><font face="Times New Roman">Lokasi banjir antara lain di Desa Sangkrah, Joyontakan, Jagalan, Kampungsewu desa tersebut letaknya di kecamatan Jebres dan Pasar kliwon. </font></span></p>
<p><span><font face="Times New Roman"></font></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><span><font face="Times New Roman">Solo, 27 Desember 2007</font></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><span><font face="Times New Roman">Posko</font></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><span><font face="Times New Roman">Amalul Madih</font></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><span><font face="Times New Roman"><span> </span><span> </span></font></span></p>
<p></span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/studymassa.wordpress.com/22/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/studymassa.wordpress.com/22/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/studymassa.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/studymassa.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/studymassa.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/studymassa.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/studymassa.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/studymassa.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/studymassa.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/studymassa.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/studymassa.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/studymassa.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/studymassa.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/studymassa.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/studymassa.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/studymassa.wordpress.com/22/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=studymassa.wordpress.com&amp;blog=1859635&amp;post=22&amp;subd=studymassa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://studymassa.wordpress.com/2007/12/28/kronologi-banjir-di-solo-27-desember-2007/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a7bfe499d9bc30cf6834e4b56a96f022?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">studimassa</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>SOLIDARITY VILLAGE FOR A COOL PLANET</title>
		<link>http://studymassa.wordpress.com/2007/12/13/solidarity-village-for-a-cool-planet/</link>
		<comments>http://studymassa.wordpress.com/2007/12/13/solidarity-village-for-a-cool-planet/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 Dec 2007 00:07:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>studimassa</dc:creator>
				<category><![CDATA[kerja lapangan]]></category>
		<category><![CDATA[sekapur sirih]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://studymassa.wordpress.com/2007/12/13/solidarity-village-for-a-cool-planet/</guid>
		<description><![CDATA[Draft Terms of Reference SOLIDARITY VILLAGE FOR A COOL PLANET “ TEGAKKAN KEDAULATAN RAKYAT UNTUK KEADILAN IKLIM DAN KEADILAN EKOLOGIS” BALI, 7-10 DESEMBER 2007 Latar Belakang Pemanasan Global yang terjadi saat ini bukanlah sesuatu yang datang secara tiba-tiba. Jika dianalisis secara mendalam, pemanasan global sesungguhnya bukanlah sebab namun adalah akibat dari kesalahan  mode produksi global. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=studymassa.wordpress.com&amp;blog=1859635&amp;post=18&amp;subd=studymassa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><strong><span><font face="Times New Roman">Draft Terms of Reference</font></span></strong></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><strong><span><font face="Times New Roman">SOLIDARITY VILLAGE FOR A COOL PLANET</font></span></strong></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><strong><span><font face="Times New Roman">“ TEGAKKAN KEDAULATAN RAKYAT UNTUK KEADILAN IKLIM DAN KEADILAN EKOLOGIS”</font></span></strong></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><strong><span><font face="Times New Roman">BALI, 7-10 DESEMBER 2007</font></span></strong></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><strong><span></span></strong></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><strong><span><font face="Times New Roman">Latar Belakang</font></span></strong></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><strong><span></span></strong></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Pemanasan Global yang terjadi saat ini bukanlah sesuatu yang datang secara tiba-tiba. Jika dianalisis secara mendalam, pemanasan global sesungguhnya bukanlah sebab namun adalah akibat dari kesalahan <span> </span>mode produksi global.</span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;"></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Secara sosial-budaya, jelas dampak dari fenomena ini bukan main-main.<span>  </span>Ada permasalahan besar yang menghadang di depan, karena dampaknya amat berbahaya bagi manusia khususnya rakyat miskin di seluruh dunia. Dampak ekonomi-politik juga sangat mengenaskan terutama bagi rakyat di negara miskin dan berkembang.<span>  </span>Seperti yang dinyatakan oleh Mantan Sekretaris Jenderal PBB, Kofi Annan dalam pertemuan United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) ke 12 di Nairobi, Kenya. </span><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Annan menyampaikan:</span></p>
<p style="text-indent:35.4pt;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;"></span></p>
<p style="text-indent:35.4pt;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">” <em>The impact of climate change will fall disproportionately on the world’s poorest countries… Poor people already live in the front lines of pollution, disaster, and the degradation of resources and land. For them, adaptation is a matter of sheer survival</em>”</span></p>
<p style="text-indent:35.4pt;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;"></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Jumlah terbesar penduduk miskin dunia saat ini berada di negara-negara tropis dan sub-tropis, kita-kita inilah yang paling pertama dan utama merasakan dampak dari pemanasan global.<span>  </span>Bencana dan ketidakteraturan iklim menyebabkan jutaan manusia kehilangan tempat tinggal, kehilangan sumber penghidupan, dihantui bahaya kelaparan dan bencana alam. Secara lebih luas jutaan manusia di seluruh dunia terancam masalah struktural: kemiskinan, penindasan dan ketidakadilan sosial. </span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;"></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Analisis terhadap penyebab pemanasan global ini juga harus dilakukan secara holistik, tidak sektoral seperti saat ini yang cenderung mengambil sudut pandang lingkungan saja. Perusakan lingkungan tak hanya dilakukan akhir-akhir saja, tapi sesungguhnya adalah rangkaian sejarah panjang eksploitasi praktek kapitalistik. Kontribusi pemanasan global mulai sangat marak dari era neoliberal (1944 hingga sekarang). Mengutip kata Soekarno, era penjajahan gaya baru inilah yang ditandai mode produksi yang mengerikan: asap-asap pabrik yang mengepul menghitamkan udara, jutaan hektar tanah yang dirangsek untuk perkebunan raksasa, gedung yang mencakar-cakar langit, dan masifnya hutan yang dibabat. Kesemuanya bertujuan tunggal, demi laba sebesar-besarnya. Mode produksi ini tak kenal puas, tak kenal batas untuk tumbuh. </span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><span></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"><span>Terkait dengan isu perubahan iklim ini, United Nations Framework Convention on Climate Change akan mengadakan pertemuan ke-13 (COP 13 UNFCCC) anggota-anggotanya pada tanggal 3-14 Desember di Nusa Dua, Bali. </span><span>Pertemuan ini akan menjadi pertemuan penting yang akan menghasilkan berbagai keputusan penting. Pertemuan tingka tinggi ini akan dihadiri oleh pejabat-pejabat tinggi pemerintahan dan bahkan sejumlah besar kepala negara akan datang. </span></font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;"></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Untuk itu Gerakan Rakyat Melawan Neo kolonialisme dan Imperialisme (GERAK LAWAN) bersama dengan La Via Campesina dan co-organizer lainnya baik nasional maupun internasional berencana mengadakan berbagai aktivitas dan diskusi sejalan dengan pertemuan UNFCCC ini pada tanggal 6-10 Desember 2007 di Bali.</span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;"></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;"></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;"></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;"></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;"></span></p>
<p style="margin:0 0 6pt;" class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Kegiatan:</span></strong></p>
<p style="text-indent:-0.25in;margin:0 0 0 0.5in;" class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;"><span><font face="Times New Roman">-<span style="font:7pt 'Times New Roman';">          </span></font></span></span><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Konferensi Rakyat: Presentasi dan testimony dari petani, nelayan, buruh, kelompok lingkungan dan lainnya mengenai pengalaman, masalah dan tawaran alternative terhadap perubahan iklim global. </span></p>
<p style="text-indent:-0.25in;margin:0 0 0 0.5in;" class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;"><span><font face="Times New Roman">-<span style="font:7pt 'Times New Roman';">          </span></font></span></span><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Workshop, debat dan diskusi mengenai neoliberalisme sebagai penyebab terjadinya pemanasan global dan perubahan iklim. </span><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Serta diskusi khusus mengenai pandangan gerakan rakyat terhadap isu ini.</span></p>
<p style="text-indent:-0.25in;margin:0 0 6pt 0.5in;" class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;"><span><font face="Times New Roman">-<span style="font:7pt 'Times New Roman';">          </span></font></span></span><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Mengorganisir “Solidarity Village to Cool the Planet”.<span>  </span>Tempat ini akan menjadi tempat bersama bagi kelompok petani, nelayan, buruh, lingkungan serta masyarakat lainnya untuk menunjukkan alternative dan tuntutan rakyat untuk menyelamatkan planet ini.</span></p>
<p style="margin:0 0 6pt;" class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;"></span></p>
<p style="margin:0 0 6pt;" class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Tujuan</span></strong></p>
<p style="text-indent:-0.25in;margin:0 0 6pt 0.5in;" class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;"><span><font face="Times New Roman">-<span style="font:7pt 'Times New Roman';">          </span></font></span></span><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Menawarkan alternative solusi mengatasi masalah perubahan iklim dari sudut pandang masyarakat.</span></p>
<p style="text-indent:-0.25in;margin:0 0 6pt 0.5in;" class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;"><span><font face="Times New Roman">-<span style="font:7pt 'Times New Roman';">          </span></font></span></span><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Memperkuat suara gerakan rakyat terhadap isu perubahan iklim di Indonesia dan internasional.</span></p>
<p style="margin:0 0 6pt;" class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;"></span></p>
<p style="margin:0 0 6pt;" class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Target</span></strong></p>
<p style="text-indent:-0.25in;margin:0 0 6pt 0.5in;" class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;"><span><font face="Times New Roman">-<span style="font:7pt 'Times New Roman';">          </span></font></span></span><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Mengkampanyekan dan menyuarakan tuntutan masyarakat untuk menghentikan model pembangunan neoliberal global yang<span>  </span>menjadi penyebab pemanasan global dan perubahan iklim. </span></p>
<p style="text-indent:-0.25in;margin:0 0 6pt 0.5in;" class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;"><span><font face="Times New Roman">-<span style="font:7pt 'Times New Roman';">          </span></font></span></span><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Bagian dari pendidikan public mengenai isu perubahan iklim dan pemanasan global terkait dengan isu dampak model pembangunan neoliberal. </span></p>
<p style="margin:0 0 6pt;" class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;"></span></p>
<p style="margin:0 0 6pt;" class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Organisers</span></strong></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Gerakan Rakyat Melawan Neo-kolonialisme dan Imperialisme (GERAK LAWAN), La Via Campesina bersama Co-organizer lain.</span> <span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;"><font size="3">Gerak Lawan (Gerakan Rakyat Lawan Nekolim): </font></span><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;"></span><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;"></span><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;"></p>
<blockquote class="EC_replbq">
<p class="EC_gmail_quote">FEDERASI SERIKAT PETANI INDONESIA | SERIKAT BERSAMA BURUH INDONESIA | INDONESIAN HUMAN RIGHT COMMITTEE FOR SOCIAL JUSTICE | KOALISI ANTI UTANG | LINGKAR STUDI AKSI DEMOKRASI INDONESIA | FRONT PERJUANGAN PEMUDA INDONESIA | WALHI | SOLIDARITAS PEREMPUAN | INSTITUTE FOR GLOBAL JUSTICE | SERIKAT BURUH MIGRAN INDONESIA | SYARIKAT HIJAU INDONESIA | KOMITE MAHASISWA ANTI IMPERIALISME | together with: LA VIA CAMPESINA | FRIENDS OF THE EARTH | FOCUS ON THE GLOBAL SOUTH | OUR WORLD IS NOT FOR SALE | KOREAN CONFEDERATION OF TRADE UNIONS | MIGRANT FORUM ASIA | ATTAC JAPAN | STOP THE NEW ROUND | KILUSANG MANGINGISDA | HONG KONG CONFEDERATION OF TRADE UNION | GLOBALIZATION MONITOR | TRANSNATIONAL INSTITUTE | FTA WATCH |</p>
</blockquote>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;"></span><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;"></span></span><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;"></span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/studymassa.wordpress.com/18/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/studymassa.wordpress.com/18/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/studymassa.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/studymassa.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/studymassa.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/studymassa.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/studymassa.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/studymassa.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/studymassa.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/studymassa.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/studymassa.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/studymassa.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/studymassa.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/studymassa.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/studymassa.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/studymassa.wordpress.com/18/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=studymassa.wordpress.com&amp;blog=1859635&amp;post=18&amp;subd=studymassa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://studymassa.wordpress.com/2007/12/13/solidarity-village-for-a-cool-planet/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a7bfe499d9bc30cf6834e4b56a96f022?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">studimassa</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>salam perjuangan</title>
		<link>http://studymassa.wordpress.com/2007/10/08/salam-perjuanagan/</link>
		<comments>http://studymassa.wordpress.com/2007/10/08/salam-perjuanagan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Oct 2007 08:50:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>studimassa</dc:creator>
				<category><![CDATA[tentang psm_yogyakarta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://studymassa.wordpress.com/2007/10/08/salam-perjuanagan/</guid>
		<description><![CDATA[Blog ini kami hadirkan dalam rangka penyebaran kerja-kerja sosial yang selama ini kami kerjakan dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Masih banyak yang harus kami selesaikan, semoga Tuhan memberkati kita semua. Merdeka!!! <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=studymassa.wordpress.com&amp;blog=1859635&amp;post=5&amp;subd=studymassa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Blog ini kami hadirkan dalam rangka penyebaran kerja-kerja sosial yang selama ini kami kerjakan dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Masih banyak yang harus kami selesaikan, semoga Tuhan memberkati kita semua. Merdeka!!! </p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/studymassa.wordpress.com/5/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/studymassa.wordpress.com/5/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/studymassa.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/studymassa.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/studymassa.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/studymassa.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/studymassa.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/studymassa.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/studymassa.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/studymassa.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/studymassa.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/studymassa.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/studymassa.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/studymassa.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/studymassa.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/studymassa.wordpress.com/5/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=studymassa.wordpress.com&amp;blog=1859635&amp;post=5&amp;subd=studymassa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://studymassa.wordpress.com/2007/10/08/salam-perjuanagan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a7bfe499d9bc30cf6834e4b56a96f022?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">studimassa</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
